Kamis, 18 Maret 2010

Madzhab Syafi'i Bukan Sufi

Redaksi Majalah Asy Syari’ah


Konon, sebagian besar muslim Indonesia bermadzhab Syafi’i. Penggunaan istilah madzhab ini “hendak” menyiratkan bahwa sebagian besar umat Islam Indonesia berakidah dan berfikih sebagaimana yang dipahami serta dipraktikkan Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah.


Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah sendiri adalah salah satu ulama besar yang dikenal gigih membela As Sunnah serta menentang segala bentuk penyelisihan terhadap As Sunnah.


Namun, apa yang beliau kukuhi tersebut ternyata malah sulit ditemukan dikalangan orang-orang yang mengaku-aku bermadzhab Syafi’i saat ini. Jangankan soal akidah, dalam hal fikih pun banyak yang tidak konsekuen dengan klaim mereka terhadap madzhab Syafi’i.


Selama ini, orang-orang yang paling bersemangat mengaku bermadzhab Syafi’i justru merupakan orang-orang yang getol mengampanyekan bid’ah dan memberantas As Sunnah, sebuah pratik yang tidak ditemukan pada diri Al Iman Asy Syafi’I Rahimahullah. Makanya, dilihat dari akidah dan amaliahnya, mereka tidaklah bermadzhab Syafi’i. Sejatinya mereka adalah sufi.


Mereka kuat dipengaruhi paham Asy’ariyah, yang menyimpang dalam memahami nama dan sifat Allah Subhanahu wata'ala. Tidak sedikit dari mereka yang lekat dengan ibadah-ibadah di kuburan dan beragam bentuk kesyirikan lainnya. Menjadikan mimpi-mimpi para syaikhnya layaknya dalil syariat. Memakai adanya tahapan syariat-ma’rifat-hakikat dalam Islam, dan sebagainya dari keyakinan- keyakinan batil yang mereka kukuhi.


Dalam hal amaliah, setali tiga uang. Mereka lebih suka mengamalkan bacaan zikir- zikir bid’ah kemudian meninggalkan zikir-zikir yang diajarkan Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam. Mereka suka bershalawat dengan shalawat yang mengandung kesyirikan ketimbang yang disyariatkan. Bahkan mereka pun gandrung dengan ritual-ritual berbau Hindu ketimbang yang dari Islam.


Kala mereka “diusik”, dinasihati bahwa akidah dan praktik ibadah tersebut tidak ada tuntutunannya dari Rasulullah Shallalahu'alaihi wasallam atau karena mengandung kesyirikan, fanatisme butalah yang muncul. Tak segan-segan, para penganut sufi tersebut akan menampilkan hadits-hadits lemah dan palsu untuk melegitimasi amalan mereka. Tentu saja, cara beragama demikian, yang mengedepankan hawa nafsu ketimbang sikap dalil syariat, yang menonjolkan taklid ketimbang sikap ilmiah, tidak pernah di contohkan ulama besar sekaliber Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah.


Namun demikian kajian dalam majalah ini akan lebih menyoroti perkara akidah. Karena dalam hal amaliah (praktik ibadah), mereka sangatlah mudah dipatahkan dengan dalil. Biasanya jika sudah kehabisan dalil (argumen), para penganut sufi akan memunculkan istilah Wahabi. Saking membabi buta – buah dari kebodohan mereka dalam memahami Islam, semua pihak yang “ajaran”nya dianggap mengusik atau bertentangan dengan mereka akan dicap Wahabi. Lebih-lebih terhadap dakwah yang mengajak kepada kemurnian Islam, yang menggemakan tauhid dan As Sunnah, sebagaimana diusung Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimullah.


Maklum saja, orang-orang sufi, dari zaman dahulu hingga sekarang, demikian lekat dengan praktik-praktik kesyirikan dan kebid’ahan, Makanya jika ada yang menyerukan anti kesyirikan, memerangi bid’ah, dan memberantas kemaksiatan, bersiaplah mendapat cemoohan dari mereka.


Oleh karena itu, jika kita mau menelaah lebih dalam madzhab Syafi’i, tentu akan menemukan perbedaan yang teramat jauh dengan ajaran sufi. Tak Cuma jauh panggang dari api, namun bisa diibaratkan minyak dengan air, karena sufi sangatlah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam yang didakwakan Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah.

Harap Dan Takut Buah Keikhlasan

Seorang mu'min haruslah berharap dan cemas atas setiap amal baik yang ia kerjakan, ia berharap mendapatkan rahmat Allah dan cemas kalau-kalau amal baik yang ia kerjakan tidak diterima oleh Allah Subhana waTa'ala.

Imam Bukhari rahimahullah menamakan sebuah bab dalam kitab Al-Iman dengan Bab khaufil mu'min min an yahbatha a'maluhu wa huwa la yasy'ur, artinya "Bab takutnya seorang mu'min kalau-kalau amalannya terhapus sedang dia tidak menyadarinya". Kemudian beliau membawakan ucapan Ibrahim At-Taimi rahimahullah secara mu'allaq. [Dan dalam kitab Tarikhnya beliau meriwayatkannya secara maushul sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari juz 1 hal.136] :

Dan Ibrahim At-Taimi berkata. "Apabila saya mempertimbangkan antara ucapanku dan amalanku saya takut kalau-kalau saya termasuk seorang pendusta."

Al Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata. "Ucapan beliau (Imam Bukhari, pent) : "Dan Ibrahim At-Taimi berkata," dia adalah termasuk ahli fiqh Tabi'in dan ahli ibadah di kalangan mereka, dan ucapannya (ãßÐÈÇ) diriwayatkan dzalnya berfathah, yaitu: Saya takut orang yang melihat amalku bertentangan dengan ucapanku akan mendustakanku, (maksudnya) ia berkata: Jika engkau benar tentu perbuatanmu tidak bertentangan dengan ucapanmu, ia mengucapkan demikian ketika ia sedang memberi nasehat kepada manusia. Dan diriwayatkan pula huruf dzalnya berkasrah, dan yang ini paling banyak riwayatnya, adapun maknanya, meskipun ia seorang pemberi nasehat kepada manusia, ia merasa bahwa amalannya belum mencapai target yang semestinya. Dan Allah mencela orang yang ber-amar ma'ruf nahi munkar, sedang dia lalai dalam segi amal, sebagaimana dalam firmanNya.

"Amat besar kebencian di sisi Allah, kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan."[As-Shaff :3]

Maka dia takut seperti para pendusta.[1]

Selanjutnya Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan ucapan Ibnu Abi Mulaikah secara mu'alaq juga. [2]

"Dan Ibnu Abi Mulaikah berkata, "Saya mendapatkan tiga puluh orang dari para shahabat Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, mereka semuanya takut kalau dirinya terjangkit penyakit nifak, tidak ada seorangpun di antara mereka yang mengatakan bahwa dirinya seperti imannya Jibril dan Mikail".[3]

Al Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata. "Yang demikian dikarenakan seorang mu'min mungkin sekali datang kepadanya sesuatu yang menodai amalnya sehingga berubah niatnya menjadi tidak ikhlas. Tidak berarti mereka terjerumus kepada kemunafikan, dikarenakan ketakutan mereka tersebut, tetapi ini menunjukkan keutamaan mereka dalam hal wara' dan taqwa, semoga Allah meridhai mereka semuanya."

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tentang ayat ini "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut." [Al-Mu'minun 60]. Apakah mereka itu orang-orang yang meminum minuman keras dan mencuri?

Beliau menjawab, "Bukan! Wahai putri Ash-Shidiq! Akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang berpuasa, menjalankan shalat, bershadaqah dan mereka takut kalau-kalau amal baik mereka itu tidak diterima, mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan.[4]

Saudara-saudaraku sekalian, pada kesempatan ini saya nukilkan tulisan Imam Adz Dzahabi rahimahullah dalam bukunya SiyarA'laami An-Nubalaa ketika beliau menulis biografi Al-Allamah, Al Hafizh Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Abi Hatim Ar Razi rahimahullah (327H), Imam AdzDzahabi rahimahullah berkata.

"Dan Abu Ar Rabi' Muhammad bin Al Fadhl Al Balkhi berkata, "Saya mendengar dari Abu Bakr Muhammad bin Mahrawaih Ar Razi, saya mendengar dari Ali bin Al-Husein bin Al Junaid, saya mendengar dari Yahya bin Ma'in bahwasanya ia berkata, "Sesungguhnya kami mencela manusia, padahal mungkin mereka yang dicela tersebut telah disediakan tempat mereka di Surga sejak dua ratus tahun yang lalu (sejak wafatnya, pent)"." Saya berkata (yaitu Imam Adz-Dzahabi, pent), "Barangkali yang benar sejak seratus tahun yang lalu, karena sesungguhnya di zaman Yahya belum sampai ke angka tersebut."

Ibnu Mahrawaih berkata, "Maka saya masuk menemui Abdurrahman bin Abi Hatim dan dia sedang membacakan buku Al-Jarhu wat Ta'dil kepada manusia, lalu saya sampaikan perkataan Yahya bin Ma'in, maka beliau menangis, dan kedua tangannya gemetar sampai mengakibatkan bukunya terjatuh, dan terus menangis sambil meminta kepadaku untuk mengulangi hikayat tersebut.

Saya berkata (Yaitu Imam Adz-Dzahabi,pent), "Dia menempuh jalan gentar dan takut akan akibat yang buruk, padahal ucapan pengkritik yang wara' mengenai orang-orang dhu'afa, termasuk nasehat bagi dien Allah dan dalam rangka membela As Sunnah.[5]

Semoga kisah di atas menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati-hati kami agar selalu dalam keadaan istiqamah di atas dien Mu yang lurus, dan kami memohon kepadaMu untuk mengakhiri kehidupan di dunia ini dengan kesudahan yang baik.



__________
Foote Note
[1]. Fathul Bari, juz 1 hal.136
[2]. Dimaushulkan oleh Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi dalam Tarikh-nya dan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikh-nya dan Muhammad Ibnu Nashr Al-Marwazi dalam kitabnya Al-Iman, meskipun keduanya tidak menyebutkan jumlah shahabat, begitulah seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Hajardalam Fathul Bari, Juz 1hal. 136
[3]. Shahih Al Bukhari, hal 14
[4]. H.R. Tirmidzi (2/201), Ibnu Jarir (10/26), Al-Hakim (2/393-394) dan Al-Baghawi dalam tafsirnya (6/25)dan Ahmad (6/159 dan 205).Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah No.162)
[5]. Siyar A'lami An-Nubala', juz 13 hal.268

Celaan Para Imam Ahlus Sunnah Terhadap Sufiyah

Celaan al Imam asy Syafi'i Rahimahullah Terhadap Sufiyah


Sufiyah bukanlah pengikut Al-Iman Asy Syafi’I Rahimahullah. Di antara buktinya adalah banyaknya celaan dari Imam Asy Syafi’I dan lainnya terhadap mereka.


Al Imam Al Baihaqi Rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al Imam Asy Syafi'i Rahimahullah: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu Zhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu”.


Al Iman Asy Syafi’I Rahimahullah juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang sufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum sufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.”


Beliau juga bekata, “Azas (dasar sufiyah) adalah malas,” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam asy Syafi'i Rahimahullah, hal. 13-15)


Beliau menamai sufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau Rahimahullah, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bida’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi).”


Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata, “orang-orang zindiq yang dimaksudkan Al Imam Asy Syafi’I adalah kaum sufiyah.” (Lihat Sufiyah fi mizan Al Kitab Was Sunnah)


Celaan al Imam Malik Rahimahullah Terhadap Sufiyah


At Tunisi mengatakan: "Kami berada di sisi Al Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nasyibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kelompok disebut sufiyah. Mereka banyak makan kemudian membaca qashidah dan berjoget.”
Al Imam Malik berkata, “Apakah mereka anak-anak?”
Orang tadi menjawab, “Bukan.”
Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila?”
Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal.”
Al Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian.”


Celaan al Imam Ahmad Rahimahullah Terhadap Sufiyah


Beliau ditanya tentang apa yang dilakukan sufiyah berupa nasyid-nasyid dan qashidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, "Itu adalah muhdats (perkara baru yang di ada-adakan dalam Islam).” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka?”, beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.”


Beliau berkata tentang Harits Al Muhasibi –dia adalah tokoh sufiyah-, “Aku tidak pernah mendengar pembicaraan tentang masalah dalam hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya.”


Celaan al Imam Abu Zur'ah Rahimahullah Terhadap Sufiyah


Al Hafizh berkata dalam Tahdzid: Al Barbza’I berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Harits Al Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, ‘hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, kerena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak membutuhkan apapun dari kitab-kitabnya.’ ”


Celaan al Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah Terhadap Sufiyah


Beliau berkata, “aku telah menelaah keadaan sufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal fikiran.”


Marwan bin Muhammad Rahimahullah berkata, “Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masaalah agama: sufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.” (Lihat Mukhalafatush sufiyah hal 16- 18)


[Dikutip dari Majalah Asy Syari’ah No.55/V/1430 H/2009]

Bisikan Syaithan Merasuki Kaum Shufi

Syaikh Rabi' bin Hadi al Madkhali


Ibnul Jauzy berkata dalam kitab Talbisul Iblis [1] :

Kemudian datang beberapa kaum -dari kalangan tasawuf- mereka berbicara tentang rasa lapar, suara hati, dan pikiran mereka seperti Al Harits Al Mahasibi.

Kemudian datang kaum yang lain, mereka mendidik madzhab tasawuf dengan memberikan ciri-ciri dan sifat khusus seperti bajunya yang ditambal, musik, suka cita, goyang, dan tepuk tangan serta berlebihan dalam kebersihan dan bersuci.

Kemudian hal itu berkembang dan para syaikh memberikan kepada mereka berbagai aturan dan menceritakan apa yang telah mereka alami. Bahkan mimpi bagi mereka adalh ilmu yang sempurna sehingga mereka menampakkan ilmu batin sedangkan ilmu syariat adalah ilmu zhahir.

Di antara mereka ada yang karena rasa lapar mereka mengeluarkan imajinasi yang rusak, mereka mengaku merindukan kebenaran dan berbagai keinginan. Sebagaimana mereka menghayalkan seorang yang berwajah tampan dan mereka sangat menginginkan bertemu dengannya. Mereka itu terjatuh di antara kufur dan bid'ah.

Kemudian hal ini bercabang dengan berbagai tarekat sehingga akidah mereka rusak bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa ia sudah menyatu dengan Rabb.

Iblis selalu membisikkan mereka dengan seni bid'ah sehingga mereka mejadikannya sebagai sunnah-sunnah bagi mereka.

Kemudian Abu Abdurrahman as Salma menulis untuk mereka sebuah kitab As Sunan, ia menulis bagi mereka Haqaiqut Tafsir. Yang menyebutkan mengenai mereka bahwa terdapat hal yang mengherankan dalam tafsir mereka tentang Al Quran tentang apa yang terjadi pada mereka dengan tidak bersandar kepada dasar- dasar ilmu. Melainkan mereka memahaminya berdasarkan manhaj mereka, mereka merasa bangga karena kewaraan mereka terhadap makanan dan mengeluarkan hukum dari Al Quran.

Abu Manshur Abdurrahman Al Qazzaz mengabarkan kepada kami dari Abu Bakar Al Khatib dari Muhammad bin Yusuf Al Qaththan An Naisaburi ia berkata, "Dahulu Abdurrahman As Salma tidak tsiqah, ia tidak mungkin mendengar dari orang yang bisu kecuali suara yang sangat pelan sekali."

Ketika Al Hakim Abu Abdullah Ibnul Bai' meninggal dunia, ia tidak bercerita dari orang bisu. Tentang sejarah Yahya Ibnu ma'in dan tentang banyak hal yang lainnya. Ia memalsukan banyak hadits bagi pengikut tasawuf.


Penulis (yaitu Ibnul Jauzi) berkata : Abu Nashr menulis untuk mereka sebuah kitab yang diberi nama Lam'ush Shufiyah, di dalamnya terdapat keyakinan yang buruk dan pernyataan yang sesat yang akan kami sebutkan secara global.


Abu Ayyub Al Makki juga menulis bagi mereka kitab Qutul Qulub, di dalamnya terdapat hadits-hadits bathil dan tidak ada sandarannya (sanad) misalnya mengenai sholat-sholat siang dan malam dan masalah lainnya yang tidak jelas dalilnya. Disebutkan pula tentang keyakinan yang rusak dan sering diulang pernyataan, "sebagian orang yang sudah mencapai kasyaf berkata".


Ini adalah omong kosong, di dalamnya juga disebutkan dari sebagian shufi bahwasanya Allah Azza wajalla menampakkan diri di dunia kepada para wali-Nya.


Abu Manshur Abdurrahman Al Qazzaz mengabarkan kepada kami dari Abu Bakar Al Khatib ia berkata Abu Thahir Muhammad Ibnul 'Allaf mengatakan bahwa Abu Thalib Al Makki memasuki kota Bashrah setelah wafatnya Abu Husain bin Salim lalu ia mengakui pendapat Abu Al Husain. Kemudian ia datang ke kota Baghdad lalu orang- orang pun berkumpul di majelisnya dan menerima pendapat-pendapatnya di antaranya: "Tidak ada makhluk yang lebih berbahaya daripada Khaliq"


Maka orang menganggapnya sebagai ahli bid'ah dan mengucilkannya lalu dilarang berbicara di hadapan khalayak ramai.


Al Khatib berkata, "Abu Ayyub Al Makki juga menulis kitab Qutul Qulub, menurut pendapat ahli shufi di dalamnya terdapat banyak hal yang mungkar yang menganggap buruk sifat-sifat Allah."


Ibnul Jauzi berkata : Abu Nu'aim Al Ashbahani menulis sebuah kitab Al Hilyah di dalamnya terdapat aturan-aturan tasawuf yang banyak mengandung kemungkaran dan keburukan, Tidak malu menyebutkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali serta para pembesar shahaba Radhiallahu'anhum di dalamnya. Disebutkan pula mengenai hal-hal yang mengherankan dan disebutkan penjelasan Al Qadhi, Al Hasan Al Bashri, Sufyan Ats Tsauri dan Ahmad bin Hanbal juga As Salma di dalam Tabaqush Shufiyah, Al Fadhil, Ibrahim bin Adham, dan Ma'rufan Al Karkhi lalu ia mengkategorikan bahwa mereka sebagai pengikuti shufi dan menjelaskan bahwa mereka termasuk orang-orang yang zuhud.

Tasawuf adalah suatu madzhab yang terkenal dengan kezuhudan yang berlebihan dan perbedaan antara mereka adalah bahwa tidak ada seorangpun yang mencela kezuhudannya sementara mereka mencela tasawuf. penjelasan hal ini akan disebutkan nanti.

Abdul Karim bin Hawazin Al Qusyairi mengarang sebuah kitab Ar Risalah, di dalamnya terdapat banyak hal yang sangat aneh mengenai alam fana dan alam baka, kematian, perkumpulan, perpisahan, sadar atau mabuk, rasa dan minum, menghapus dan menetapkan, tampak (tajally), hadir (muhadhirah) dan menyingkap (mukasyafah), gambaran, syari'ah, dan hakikat sampai kepada kekacauan yang tidak ada artinya dan tafsirnya lebih aneh lagi.

Kemudian Muhammad bin Zhahir Al Maqdisi yang menulis Shafwatut Tasawuf, di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak layak disebutkan oleh orang yang mempunyai akal, kami menyebutkan apa yang baik untuk disebutkan pada tempatnya.

Ia berkata dalam kitab Al Mushfih bil Ahwal bahwasanya pengikut aliran sufi dalam keadaan sadar akan dapat melihat malaikat dan arwah para nabi, mendengar suara mereka, mengambil berbagai faidah dari mereka. Kemudian naik derajatnya dari melihat bentuk kepada derajat yang lebih tinggi yaitu pembicaraan.

Ibnul Jauzi berkata : Mereka menulis semua itu dengan sedikitnya ilmu mereka terhadap sunnah, Islam dan atsar para shahabat. Penerimaan terhadap menurut suatu kaum, mereka anggap baik hanya karena terdapat dalam jiwa yang zuhud. Dan merka tidak melihat keadaan yang lebih baik dari keadaan mereka tidak pula ada suatu perkataan yang lebih tinggi dari perkataan mereka sedangkan sejarah salaf adalah jenis yang kasar menurut mereka. Kecenderungan manusia kepada mereka sangat besar ketika kami sebutkan bahwa itu adalah tarekat yang kelihatannya bersih dan taat beribadah namun di dalamnya terdapat kelalaian dan alunan musik sedangkan tabiat manusia cenderung kepada keduanya itu.

Dahulu pengikut aliran shufi menjauhi para penguasa namun sekarang menjadi teman dekat mereka.

Sebagian besar kitab-kitab mereka ditulis tanpa ada landasannya melainkan berdasarkan kejadian-kejadian yang mereka ambil dari sebagian yang lain. Mereka menamakannya dengan imu batin.

Dan ada sebuah perkataan dengan sanad sampai kepada Abu Ya'qub Ishaq bin Hayyah ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang was- was dan bisikan hati. Maka beliau menjawab, "Hal tersebut tidak pernah dibicarakan oleh para shahabat dan tidak juga para tabi'in."

[Dinukil dari kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wa Al Kutub wa Ath Thawaif, Edisi Indonesia Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah Dalam Mengkritik Tokoh, Kitab, dan Aliran, Penulis Syaikh Rabi' bin Hadi Umair al Madkhali, Judul oleh Admin Blog Sunniy Salafy]

Tantangan Dunia Islam, Penyebab Sakitnya Kaum Muslimin

Al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal As Salafiy


Allah Subhana wa Ta`ala telah berfirman : “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Din (Agama) yang haq agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang orang musyrik benci.” (QS. As Shaff: 9)


Ayat Yang Mulia ini dijelaskan oleh Imam Ahlis Sunnah pada abad ini, Al Imam Al `Allaamah Az Zaahid Al Wara` Syaikul Islam Muhammad Naashiruddin Al Albaaniy di dalam kitabnya Silsilatul Ahaadist As Shohihah (1/6) di mana ayat yang mulia ini telah memberikan khabar gembira buat kita bahwa masa depan itu akan berada di tangan Din Islam, Din Islam akan menguasai, akan menang dan hukumnya akan mengalahkan agama agama lainnya seluruhnya. Sesungguhnya sebahagian manusia menyangka bahwa janji sudah terbukti seluruhnya di zaman Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, Al Khulafaur Rasyidiin, dan Raja raja yang sholih, sebetulnya tidak demikian, yang sudah terbukti dari janji ini baru sedikit sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam, “Tidak akan hilang siang dan malam sampai al laata dan al `uzza diibadati. Berkata `Aisyah Radhiallahu `anha: Ya Rasulullah, sesungguhnya saya mengira ketika turunnya ayat Allah Ta`ala, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Din (Agama) yang haq agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama lainnya meskipun orang orang musyrik benci.” Seluruhnya itu sudah sempurna; Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Sesungguhnya hal yang demikian akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah.” Diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya, dan Syaikh Al Albaaniy juga mengeluarkan hadist ini dalam kitabnya Tahdziirus Saajid min ittikhadzil qubuur masaajid Hal. 122.


Sesungguhnya hadist hadist lainnya yang menjelaskan tentang kemenangan Din Islam dan jauh jangkauan tersebarnya, sekira kiranya tidak memberikan kesempatan buat kita untuk ragu dan bimbang tentang bahwa masa depan itu akan berada di tangan ummat Islam dengan idzin Allah dan Taufiq-Nya.


Jadi kalau kita menela`ah ayat yang mulia ini tentu kita akan paham bahwa tidak akan ada sebetulnya tantangan dunia Islam, dengan arti kalau dunia Islam (ummat Islam) itu betul betul kembali kepada Din (Agama) mereka dan mengamalkannya sebagaimana yang telah diamalkan oleh generasi terbaik ummat ini (para shahabat, tabi`in dan atbaauttabi`in). Syaikh Al Albaani rahimahullah Ta`ala juga telah menjelaskan hal ini dalam kitabnya Fiqhul Waqi', hal. 53-55. Dengan topik : “penyebab sakitnya kaum Muslimin”


Sesungguhnya sakitnya kaum Muslimin pada hari ini bukan dikarenakan mereka tidak menguasai (bodohnya) mereka dengan satu cabang ilmu tertentu, saya berkata (Syaikh Al Albaaniy): “Ini diakui bahwa setiap ilmu itu akan memberikan manfa`at bagi kaum Muslimin dan diwajibkan untuk mengetahuinya sesuai dengan qadarnya, akan tetapi sebab kemunduran yang menimpa kaum Muslimin sekarang ini bukan karena bodohnya mereka dengan kekinian (fiqhul waaqi`), atau dengan arti kata karena mereka tidak menguasai tekhnologi (iptek) sebagaimana orang orang barat menguasai iptek tersebut, sehingga hal ini menjadi tantangan bagi mereka untuk maju, tidak, sekali lagi tidak!! Sebetulnya penyebab hal demikian ialah karena mereka lalai dalam mengamalkan hukum hukum Din mereka, baik Al Quran atau Sunnah. Seperti yang dipertegas dalam hadist shohih yang akan datang ini.


إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرَعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ


“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah akan kuasakan/ timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut/ dihilangkan kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.”


Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3003 dalam kitab Al Buyu’, bab An-Nahyu ‘anil 'inah dan Al-Imam Ahmad (2/28). Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits ini dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Ash- Shahihah no. 11.


Syaikh Al Albaaniy mensyarahkan hadist ini sebagai berikut :


1. Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah.
Menunjukan tentang satu jenis jual beli bentuk riba yang dipraktekkan dalam masyarakat.

2. Dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam.
Ini menunjukan bersungguh sungguhnya orang mencari kehidupan dunia dan larut dalam kehidupan dunia itu, kemudian melalaikan ajaran syari`atnya dan hukum hukum Din (agama) nya.

3. Dan juga kalian telah meninggalkan jihad.
Ini akibat dan hasil dari perbuatan yang diatas, dimana kalau ummat Islam itu sudah sibuk dengan dunianya, melupakan ajaran Dinnya, diantaranya meninggalkan jihad, melakukan jual beli riba tanpa memperdulikan lagi larangan larangan Allah Subhana wa Ta`ala, larut siang dan malam menuntut ilmu ilmu keduniaan dengan tidak memperdulikan lagi menuntut ilmu yang bermana`at dan menyelamatkannya, maka sudah tentu Allah akan menimpakan atas kehinaan sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta`ala :

“Hai orang orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanya sedikit.” (QS. At Taubah: 38)

Perkataan Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam :

“Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan yang tidak akan dicabut dari kalian sampai kalian kembali kepada Din kalian.”

Pada hadist ini merupakan isyarat yang sangat jelas sekali bahwa Ad Din (agama) yang diwajibkan kita untuk kembali kepadanya ialah Ad Din yang sudah disebutkan oleh Allah Ta`ala dalam berbagai surat dalam Al Quran, diantaranya :

“Sesungguhnya Ad Din (agama) yang paling benar disisi Allah ialah Al Islam.” (QS. Ali `Imraan: 19)

Dalam surat yang lain :

“Pada hari ini Saya telah sempurnakan bagi kalian Din (agama) kalian dan telah Saya cukupkan atas kalian nikmat Saya dan Saya redho Islam menjadi Din (agama) kalian.” (QS. Al Maaidah: 3)

Ad Din (Syari`at) ini betul betul sudah disempurnakan oleh Allah `Azza Wa Jall, tidak memerlukan lagi kepada penambahan dan pengurangan seluruhnya sudah dijelaskan oleh-Nya dan diamalkan oleh Rasul-Nya Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shahabatnya Radhiallahu `anhum. Akan tetapi jangan terbayang oleh kita bahwa seluruhnya itu ada dalam Al Quran, atau dengan kata lain bahwa Al Quran itu merupakan sumber ilmu pengetahuan, ini adalah perkataan dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya, sebab Allah Subhana wa Ta`alah telah menjelaskan kepada kita bahwa Al Quran itu adalah petunjuk bagi orang orang yang Bertaqwa. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat,

“Alif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 1-2)

Bukan sebagaimana da`waan orang orang pencinta dan pengagung iptek, dimana mereka ini memposisikan Al Kitab ini seperti enklosipedi, namun realisasi kandungan Al Quran itu tidak pernah nampak dalam kehidupan mereka, dengan arti kata mereka tidak mengamalkan Al Quran itu sebagaimana yang telah diamalkan dan dipraktikkan oleh generasi generasi terbaik ummat ini.

Ayat yang mulia di atas telah dikomentari oleh Al Imam Malik Rahimahullah sebagai penegas dan penjelas terhadap maksudnya, beliau Rahimahullah berkata : “Apa apa yang tidak merupakan ajaran Din (agama) pada masa itu (masa Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shahabatnya), maka tidak berhak juga untuik dikatakan dan dimasukan ke dalam ajaran Din pada masa ini, dan tidak akan baik akhir dari ummat ini kecuali bila mereka memperbaiki diri mereka dengan cara ummat yang awal dahulu.”

Tapi Kalian Bagai Buih…

Penulis: Asy Syaikh Salim Al Hilali

Ketika kita memperhatikan kata-kata wahyu dari Al Qur'an dan Sunnah, kita melihat bahwa realita ummat Islam terlingkupi dengan huruf-huruf yang jelas. Tidak samar bagi orang yang melihat hakikat urusan ini yang tidak tertipu dengan fatamorgana yang muncul tapi sirna bahwa penyakit Wahn telah menggerogoti urat-urat ummat ini.

Reatita ini telah ada isyarat kepadanya, peringatan jelas tanpa samar tentangnya. Jelas tanpa kekaburan. Terang tanpa terselubung kabut yang bisa rnengganggu pandangan.

Itu dalam hadits dari Tsauban radhiyallahu 'anhu maula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Hampir terjadi keadaan yang mana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang- orang yang makan mengerumuni makanannya. "
Salah seorang sahabat berkata; "Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?”
Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa' (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada didalam dada- dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn. "
Kata para sahabat: "Wahai Rasulullah, apa Wahn itu?
Beliau bersabda: "Cinta dunia dan takut mati. "
(HR Abu Daud no. 4297, Ahmad 5/278, Abu Nu'aim dalam At Hilyah l /182 dengan dua jalan dan dengan keduanya hadits ini menjadi shohih)

Hadits ini yang menceritakan ape wahn itu menunjukkan keadaan ummat Islam.
Pertama: Musuh-musuh Allah dari kalangan tentara Iblis serta pendukung syaithan selalu memata-matai perkembangan ummat Islam serta negara mereka. Karena mereka telah melihat penyakit wahn ini telah merasuki kaum musiimin. Penyakit ini telah menyembelih leher-leher ummat Islam. Maka mereka menerkamnya dan masih menyembunyikan sisanya.


Kaum kuffar dan musyrikin ahlul kitab selalu melakukan hal demikian sejak munculnya fajar is¬lam. Itu terjadi ketika daulah Islam yang murni yang ditanamkan pondasinya dan dikokohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah dan sekitarnya.
Ini ditegaskan dalam hadits yang menceritakan tiga orang yang sengaja tidak ikut berperang (HR Bukhari Muslim), sebagaimana dikatakan oleh Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu: "...Ketika aku berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang petani dari petani-petani negeri Syam yang membawa makanan untuk dijual di Madinah
berkata: Siapa yang bisa menunjukkan Ka'ab bin Malik kepadaku? Maka orang-orang menunjukinya, maka dia datangi aku kemudian menyerahkan kepadaku sebuah surat dari raja Ghassan. Dan saya adalah seorang terpelajar, maka aku baca ternyata didalamnya tertulis: Amma ba'du, telah sampai kepada kami berita bahwa teman-temanmu bersikap keras kepadamu. Dan Allah tidak akan membiarkanmu berada di negeri yang penuh dengan kehinaan dan kesempitan, maka datanglah dan bergabunglah dengan kami, kami akan menampungmu."

Perhatikan, wahai muslim yang cerdas dan coba renungkan, wahai saudara terkasih, bagaimana orang-orang kafir selalu mengawasi berita-berita daulah Islam. Bila ada kesempatan, mereka akan menerkamnya dari segala penjuru. Itu juga dijelaskan dengan:

Kedua: Sesungguhnya ummat-ummat kafir saling membantu dan bergabung untuk menyerang Islam, daulahnya, pemeluknya dan para da'inya.
Siapa yang membaca sejarah perang Salib, akan tahu bagaimana peristiwa itu. Yang mana Bani Ashfar mempersiapkan pasukannya untuk membinasakan daulah khilafah. Akan jelas hal ini seperti jelasnya cahaya matahari ditengah teriknya siang.

Dan hingga sempurna bagi mereka hal itu, maka mereka membuat "Kelompok", kemudian 'Badan orgainisasi", kemudian "dewan", kemudian "Organisasi dunia", dengan itu mereka membakarnya semangat mereka dengan slogan-slo¬gan. Juga:

Ketiga: Negeri-negeri Islam adalah sumber-¬sumber kebaikan dan berkah. Maka ummat-ummat kafir ingin menguasainya. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyerupakannya dengan makanan baik yang membuat berselera para menyantapnya, maka mereka menyerbunya, setiap penyerbu ingin mendapat bagian seperti bagian singa.

Ke empat: Orang-orang kafir membuat negeri-¬negeri Islam menjadi berkelompok terpecah dan terpisah-pisah, sebagaimana datam hadits Abdullah bin Hawalah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Nanti kalian akan menjadi pasukan yang berkelompok¬kelompok. Satu kelompok di Syam, satu kelompok di Iraq, dan satu kelompok di Yaman." kata sahabat: Berilah pilihan, wahai Rasulullah. Maka beliau bersabda: "Pilihlah yang di Syam, siapa yang enggan, maka yang di Yaman. Dan hendaklah dia minum dari airnya, karena Allah menjaminkan untukku negeri Syam dan penduduknya. "
Rabi'ah berkata: Aku mendengar Idris Al Khaulani menyampaikan hadits ini dan berkata: "Dan siapa yang dijamin Allah tidak akan tersia-sia."
Bukankah ini realita ummat Islam?! Mereka menjadi negara-negara yang terpisah. Tidak punya wibawa.Tidak bisa berkuasa mengurus dalam dan luar negerinya dengan merdeka. Semuanya diatur oleh or¬ang kafir. Hanya Allah yang kita minta pertolongannya dan kepadanya kita bertawakkal.

Ke enam: Kini, orang kafir tidak segan lagi kepada kaum muslimin, karena mereka (kaum muslimin) sudah kehilangan wibawanya dihadapan umrnat-ummat lainnya. Yang mana dulu wibawa itu membuat gemetar lutut dan sendi-sendi orang kafir dan pasukan Iblis. Itu karena senjata penghancur milik kaum muslimin tidak lagi ditakuti oleh orang kafir.

Allah berfirman:

"Akan Kami lemparkan dalam hati orang-orang kafir¬ rasa takut akibat mereka menyekutukan Allah. " (Ali Imran: 151)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;

"Aku ditolong Allah dengan musuh mengalami rasa takut, padahal aku masih sebulan perjalanan kesana. "

Ke tujuh: Unsur-unsur kekuatan ummat Is¬lam bukan pada banyaknya jumlah dan kekuatannya, pasukan kavalerinya dan kesombongannya, pasukan infantrinya dan para komandannya, tapi pada aqidahnya dan manhajnya. Karena ummat ini adalah ummat tauhid dan pengusung panji- panji tauhid.
Apakah engkau tidak dengar sabda Rasulutlah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang jumlah: "Bahkan kalian ketika itu banyak !" ?
Perhatikan pelajaran dari perang Hunain, akan engkau dapati dia menjadi contoh disetiap masa.

"Dan hari Hunain ketika kalian merasa takjub dengan jumlah kalian yang banyak, tapi itu tidak berguna bagi kalian sedikitpun. " (QS At Taubah:26)

Ke delapan: Posisi ummat Islam ticlak dipertimbangkan sedikitpun diantara ummat¬ummat dimuka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Akan tetapi kalian bagai buih, seperti buih banjir."

Sabda ini memberikan beberapa hal:
a. Buih yang mengalir membawa banyak kotoran bersamanya. Begini juga ummat Islam, berjalan bersama kotoran ummat Kafir
b. Banjir membawa buih yang tidak bermanfaat bagi manusia. Begitu juga ummat Is¬lam, tidak melaksanakan perannya dihadapan ummat-ummat lain, yaitu Amar Ma'ruf dan Nahyi Mungkar.
c. Buih akan segera sirna. Dan karena itu Allah akan mengganti siapa yang berpaling dan mengokohkan kelompok yang bermanfaat bagi manusia di muka bumi.
d. Buih yang dibawa banjir tercampur dengan kotoran tanah. Begitu juga pemikiran mayoritas ummat Islam telah terkontaminasi dengan sampah filsafat dan budaya yang rusak.
e. Buih yang dibawa oleh banjir tidak tahu akan berakhir dimana karena dia berjalan bukan atas keinginannya. Dia seperti orang yang menggali kuburnya dengan kukunya. Begitu juga ummat Is¬lam, tidak tahu apa yang sedang direncakan musuh¬-musuhnya atas diri mereka. Ironisnya, mereka masih saja membebek dan mengikuti mana yang lebih keras gaungnya dan bersikap bagai pucuk Erau yang bergerak kemana angin meniupnya.

Ke sembilan: Ummat Islam menjadikan dunia sebagai target utamanya. Tujuan ilmunya. Oleh karena itulah mereka menjadi takut mati. Cinta dunia karena mereka meramaikan dunia hingga lupa kepada kampung akhirat.
Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan hal ini menimpa ummatnya.
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Bila ditaklukkan Persia dan Romawi, di kaum mana kalian? Abdurrahman bin Auf berkata: Kami akan berposisi seperti yang Allah perintahkan kami (yaitu akan memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya dan meminta tambahan dari nikmat-Nya. Lihat An Nawawi 18/96),
Kata beliau: Jangan sampai selain itu, yaitu kalian akan saling berlomba-lomba, kemudion saling mendengki, kemudian saling membelakangi,kemudian saling membenci -atau yang sejenisnya ¬kemudian kalian berjalan dihadapan muhajirin yang miskin dan sebagian kalian memakan sebagian. "(HR Muslim no_ 2962)
Oleh karena ketika ditaktukkan perbendaharaan Persia, Umar bin At Khaththab radhiyallahu 'anhu menangis dan berkata: "Sesungguhnya harta ini jika dibukakan kepada sebuah ummat, Allah jadikan permusuhan diantara mereka."

Ke sepuluh: Ummat-ummat kafir tidak akan bisa menghabiskan ummat Islam, walau mereka bersatu untuk itu dari segala penjuru -dan mereka memang sudah bersatu-, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam hadits Tsauban radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah telah melipat bumi ini bagiku, maka aku melihat bagian timur dan baratnya. Dan ummatku akan sampai kekuasaan mereka seperti yang ditunjukkan kepadaku. Aku juga diberi perbendaharan merah dan putih (emas dan perak yang itu adalah harta benda kerajaan Persia dan Rumawi) dan aku meminta kepada Allah untuk ummatku agar tidak dibinasakan dengan kelaparan setahun yang membinasakan mereka. Dan agar jangan sampai mereka dikuasai musuh selain diri mereka sendiri hingga akan dihancurkan mereka hingga akar-akarnya. Dan Alla telah berfirman :
Wahai Muhammad, Sesungguhnya Aku bila menetapkan suatu ketetapan, maka itu tidak bisaditolak. Aku memberikan bagi ummatmu untuk tidak dibinasakan dengan kelaparan setahun.
Dan Aku tidak jadikan berkuasa mereka stu musuhpun selain diri sendiri yang akan menyerang mereka sendiri walau musuhnya sudah bersatu dari berbagai penjuru. Hingga diantara mereka sendiri yang saling menghacurkan satu dengan lainnya (HR Muslim no. 2889)

Maka apa yang bisa membuat sebuah pohon yang kokoh yang akarnya menancap ke bumi dan cabangnya mencakar ke langit menjadi sia-sia?!


Sumber : Buletin Dakwah Al Minhaj Edisi VI/Th.I

"Manfaat Jilbab Menurut Islam dan Sains"

oleh kak rio e. turipno
Allah memerintahkan sesuatu pasti ada manfaatnya untuk kebaikan manusia. Dan setiap yang benar-benar manfaat dan dibutuhkan manusia dalam kehidupannya, pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya. Di antara perintah Allah itu adalah berjilbab bagi wanita muslimah. Berikut ini beberapa manfaat berjilbab menurut Islam dan ilmu pengetahuan.

1. Selamat dari adzab Allah (adzab neraka)

“Ada dua macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

“Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.

2. Terhindar dari pelecehan

Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah laku mereka sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar. Sebagaiman sabda Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam, “Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari)

Jikalau wanita pada jaman Rasul merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki padahal wanita pada jaman ini konsisten terhadap jilbab mereka dan tak banyak lelaki jahat saat itu, maka bagaimana wanita pada jaman sekarang??? Tentunya akan menjadi target pelecehan. Hal ini telah terbukti dengan tingginya pelecehan di negara-negara Eropa (wanitanya tidak berjilbab).

3. Memelihara kecemburuan laki-laki

Sifat cemburu adalah sifat yang telah Allah subhanahu wata'alatanamkan kepada hati laki-laki agar lebih menjaga harga diri wanita yang menjadi mahramnya. Cemburu merupakan sifat terpuji dalam Islam.

“Allah itu cemburu dan orang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin menghampiri apa yang diharamkan-Nya.” (HR. Muslim)

Bila jilbab ditanggalkan, rasa cemburu laki-laki akan hilang. Sehingga jika terjadi pelecehan tidak ada yang akan membela.

4. Akan seperti biadadari surga

“Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, mereka tak pernah disentuh seorang manusia atau jin pun sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 56)

“Mereka laksana permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rahman: 58)

“Mereka laksan telur yang tersimpan rapi.” (QS. Ash-Shaffaat: 49)

Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga. Yaitu menundukkan pandangan, tak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya, yang senantiasa dirumah untuk menjaga kehormatan diri. Wanita inilah merupakan perhiasan yang amatlah berharga.
Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga.

5. Mencegah penyakit kanker kulit

Kanker adalah sekumpulan penyakit yang menyebabkan sebagian sel tubuh berubah sifatnya. Kanker kulit adalah tumor-tumor yang terbentuk akibat kekacauan dalam sel yang disebabkan oleh penyinaran, zat-zat kimia, dan sebagainya.

Penelitian menunjukkan kanker kulit biasanya disebabkan oleh sinar Ultra Violet (UV) yang menyinari wajah, leher, tangan, dan kaki. Kanker ini banyak menyerang orang berkulit putih, sebab kulit putih lebih mudah terbakar matahari.

Kanker tidaklah membeda-bedakan antara laki-laki dan wanita. Hanya saja, wanita memiliki daya tahan tubuh lebih rendah daripada laki-laki. Oleh karena itu, wanita lebih mudah terserang penyakit khususnya kanker kulit.

Oleh karena itu, cara untuk melindungi tubuh dari kanker kulit adalah dengan menutupi kulit. Salah satunya dengan berjilbab. Karena dengan berjilbab, kita melindungi kulit kita dari sinar UV. Melindungi tubuh bukan dengan memakai kerudung gaul dan baju ketat. Kenapa? Karena hal itu percuma saja. Karena sinar UV masih bisa menembus pakaian yang ketat apalagi pakaian transparan. Berjilbab disini haruslah sesuai kriteria jilbab.

6. Memperlambat gejala penuaan

Penuaan adalah proses alamiah yang sudah pasti dialami oleh semua orang yaitu lambatnya proses pertumbuhan dan pembelahan sel-sel dalam tubuh. Gejala-gejala penuaan antara lain adalah rambut memutih, kulit keriput, dan lain-lain.

Penyebab utama gejala penuaan adalah sinar matahari. Sinar matahari memang penting bagi pembentukan vitamin Dyang berperan penting terhadap kesehatan kulit. Namun, secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa sinar matahari merangsang melanosit (sel-sel melanin) untuk mengeluarkan melanin, akibatnya rusaklah jaringan kolagen dan elastin. Jaringan kolagen dan elastin berperan penting dalam menjaga keindahan dan kelenturan kulit.

Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah.

Krim-krim pelindung kulit pun tidak mampu melindungi kulit secara total dari sinar matahari. Sehingga dianjurkan untuk melindungi tubuh dengan jilbab.
Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah. Dan jilbab pun memiliki manfaat. Ternyata tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya. Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.

Ternyata jilbab tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya.Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.

Demikianlah Allah memberi kasih sayangnya kepada wanita melalui syariat islam yang sempurna. www.voa-islam.com